UII Mewisuda 735 Lulusan

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. mewisuda 735 lulusan doktor, magister, sarjana dan diploma, pada upacara wisuda UII periode III TA 2018/2019, di Auditorium Prof. Dr. Abdulkahar Mudzakir, Kampus Terpadu UII, Sabtu (26/1). Terdiri dari 13 ahli madia, 674 sarjana, 47 magister, dan 1 doktor. Sampai saat ini, UII telah meluluskan lebih dari 95.571 alumni.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi pada jenjang magister diraih Toni Hartadi dari Program Studi (Prodi) Magister Akuntansi, lulus dengan IPK 3,92. Sementara pada jenjang sarjana berhasil diraih Nafilatur Rohmah, dari Prodi Ekonomi Islam dengan IPK 3,96. Sedangkan pada jenjang diploma, IPK tertinggi 3,77, diraih Muhammad Indra Septiaji dari Prodi Diploma Tiga Analisis Kimia

Di hadapan wisudawan, Fathul Wahid menegaskan bahwa perkuliahan di perguruan tinggi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan studi. Dalam pandangan Islam, belajar adalah misi sepanjang hayat, selama nyawa masih melekat, selama nafas belum tersendat, tidak ada garis finis dalam belajar.

“Meskipun sudah lulus satu tahapan pendidikan, pada program doktor sekalipun, ilmu yang kita dapatkan masih sangat sedikit. Manusia tidak diberi ilmu oleh Allah, melainkan hanya sedikit (QS 17:85), sedangkan ilmu Allah tidak bertepi, tak berbatas,” tuturnya.

Fathul Wahid berpesan untuk terus belajar, yakni dengan lebih sering membaca, piknik, dan diskusi. Membaca adalah ikhtiar membuka jendela dunia. Dengan membaca bisa menyelami beragam pemikiran, memperluas perspektif, memperkaya inspirasi, dan memperjauh horizon.

“Dengan membaca, bisa ‘lompat pagar’ dan memahami orang lain dengan logika dan argumen yang dikembangkannya. Membaca di sini tidak hanya terbatas pada teks, tetapi juga pada fenomena alam dan social,” imbuhnya.

Menurut Fathul Wahid, banyak hikmah yang bisa dipetik ketika rajin melakukan piknik. Piknik juga merupakan upaya ‘membaca’ ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda keagungan Allah yang menempel di alam semesta. Sementara diskusi adalah ikhtiar lain dalam belajar. Kemampuan pemahaman dan jangkauan bacaan kita terbatas.

“Diskusi akan memantik banyak hal yang selama ini sudah mapan diyakini. Diskusi juga akan membawa perspektif baru yang mungkin belum diakses sebelumnya. Diskusi akan membangun komunitas pembelajaran,” jelasnya.

Disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES., DEA., lulusan perguruan tinggi sampai saat ini belum mendominasi SDM di Indonesia. Dimana keberadaannya masih sekitar 15 persen, selebihnya SDM yang ada merupakan lulusan SD sampai SMA.

Selain itu dalam sambutannya, Bambang Supriyadi berharap lulusan perguruan tinggi berani mendukung kebenaran, dan berprilaku kebenaran. Disampaikan, indeks presepsi korupsi Indonesia masih di angka 37. Ia membandingkan dengan Newzealand, yang indeks presepsi korupsinya sudah cukup baik. Hal ini menurutnya juga didukung oleh kualitas lulusan dari perguruan tinggi.

Sementara disampaikan wakil alumni UII, Iqbal Himawan, S.E., untuk mewujudkan mimpi, dibutuhkan komitmen dan konsistensi. Di sisi lain, konsistensi pada satu bidang bisa membuat kita terjebak dalam rutinitas dan Comfort Zone. “Jangan pernah takut dengan tantangan-tantangan baru, dengan resiko yang juga berbeda-beda. Resiko inilah yang akan membuat kita selalu terpacu dan terhindar dari titik jenuh,” tuturnya.

Iqbal Himawan menambahkan, memasuki era industri 4.0 akan ada peralihan teknologi dari tenaga manusia ke robot, dimana empati yang akan membedakannya. “Saat bekerja dalam sebuah team besar, saat harus menjadi leader dan mengambil keputusan yang menyangkut nasib orang banyak dibutuhkan Empati,” ujar Iqbal Himawan yang merupakan anchor di PT. Media Televisi Indonesia.

Mahasiswa Pascasarjana FE UII Dituntut Kompetitif di Era Digital

Dunia sudah banyak mengalami perubahan pada era digital yang disebut dengan revolusi industri 4.0. Bisnis apapun di era digital ini sudah banyak berubah. Oleh karena itu, ke depannya orang-orang yang berfikir kreatiflah yang akan menang.

Seperti disampaikan Ir. Hawari Nasution Tandjaya, MM ketika menyampaikan materi “Tantangan dan Peluang Bisnis di Era Digital” pada Orientasi Studi dan Kuliah Perdana Program Magister dan Doktor FE UII. Acara tersebut diselenggarakan di Kampus FE UII pada Sabtu (19/1). Kuliah perdana ini merupakan awal dari kegiatan akademik program doktor dan magister semester genap 2018/2019 di FE UII.

Hawari Nasution mengajak seluruh mahasiswa/mahasiswi baru program Pascasarjana untuk berfikir kreatif. “Jangan sampai kemajuan teknologi yang ada pada era sekarang ini mematikan pola pikir seperti banyaknya plagiarisme akibat semakin mudahnya dalam mendapatkan suatu artikel atau informasi”, pesannya.

Mahasiswa pascasarjana yang diterima pada semester ini berjumlah 98 mahasiswa dari program studi Magister Manajemen, Magister Akuntansi, Magister Ekonomi dan Keuangan, dan Doktor Imu Ekonomi.

Sementara, Ketua penyelenggara Dr. D. Agus Harjito, M.Si mengatakan bahwa mahasiswa baru yang diterima pada program pascasarjana ini sudah melalui berbagai tahap seleksi mulai dari tes potensi akademik dan evaluasi. Program pascasarjana FE UII memiliki program yang bertujuan untuk meningkatkan softskill mahasiswa.

“Untuk mengawali kuliah ini terdapat program Behavior, Modelling for Learning untuk meningkatkan kemampuan softskill mahasiswa” pungkasnya.

Sedangkan Dekan FE UII Jaka Sriyana, SE., M.Si., Ph.D menuturkan program Pascasarjana FE UII sudah melakukan berbagai macam kerjasama untuk meningkatkan kualitas akademik mahasiswanya. “Kerjasama-kerjasama yang dilakukan di pascasarjana FE UII yaitu kesempatan dual degree di program Magister Akuntansi”, ungkapnya.

Acara dilanjutkan dengan penyematan jas almamater kepada perwakilan mahasiswa program Pascasarjana FE UII yang didampingi oleh ketua penyelenggara. Para peserta begitu antusias dalam mengikuti kuliah umum ini yang ditandai banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta kuliah umum. (AR/ESP)

Tantangan Ekonomi Syariah di Era Modern

 

Walaupun market share keuangan syariah Indonesia masih dibawah 10% dan dikatakan masih cukup lemah, Indonesia bisa dikatakan negara yang memiliki lembaga syariah yang cukup banyak. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan ilmu ekonomi syariah.  Oleh karena itu perlu penanganan sistematis dan serius untuk mengembangkan keuangan syariah di Indonesia. Selain itu, Ekonomi syariah juga menjadi ladang amal saat kita berkontribusi mengembangkan ilmu yang telah hadir secara resmi lebih dari dua dasawarsa silam ini. Hal itulah yang disampaikan oleh Wakil Dekan Fakultas Ekonomi UII Bidang Sumber Daya, Arief Rahman, SE., M.Com., Ph.D. ketika memberi sambutan saat acara Public Hearing yang bertemakan “Masterplan Ekonomi Syariah” di ruang P1/2 Fakultas Ekonomi UII.

Prof. Abdul Ghafar Ismail sebagai salah satu pembicara pada acara hari ini (26/12) sekaligus pakar ekonomi syariah internasional bertutur bahwa peningkatan jumlah populasi muslim dunia 1,84 Milyar pada tahun 2017. Hal ini merupakan kabar baik dalam meningkatkan sektor halal industri di dunia. Posisi Indonesia sendiri dalam penerapan ekonomi syariah global cukup potensial. Indonesia merupakan konsumen terbesar di dunia namun bukan produsen utama.

“Potensi Indonesia besar, namun baru konsumsinya saja yang besar”

Namun untuk menghadapi kenyataan itu, dari data yang ada, industri makanan dan minuman memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena Indonesia memiliki infrastruktur memadai serta nilai ekspor besar. Oleh karena itu, dalam masterplan sektor ini akan dijadikan sebagai prioritas. Namun ada empat sektor Industri halal lain yang dapat dikembangkan di Indonesia. Empat sektor itu adalah pariwisata, kosmetik dan obat-obatan serta tekstil.

Tak lupa, halal value chain juga penting dalam konteks ini. Tujuannya adalah untuk menaikkan peringkat Indonesia menjadi tiga besar. Ada beberapa strategi untuk mencapai target tersebut, yaitu konsolidasi pasar dalam negeri, memperkuat dan meningkatkan efektivitas institusi terkait halal industri serta meningkatkan jangkauan dan efektivitas. Itulah yang disampaikan oleh Muhammad Abdul Ghoni

Ada beberapa catatan masterplan yang dituturkan Achmad Tohirin, yaitu bukan hanya produk halal saja yang dikembangkan, nanum juga toyib. Selain itu berdasar riset yang telah dilakukan menunjukan bahwa pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah masih sangat rendah. Bahkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai riba, gharar dan maysir. Hal itu merupakan PR besar untuk menyosialisasikan tentang ekonomi syariah ke masyarakat sebelum memantapkan masterplan lima tahun mendatang. Selain itu tentang industry keuangan syariah sendiri, perkembangan perbankan dan keuangan syariah yang menuntut adanya terobosan baru dan perlunya tinjauan ulang atas bentuk keembagaan bank syariah. sebenarnya potensi yang kita punya dalam keuangan syariah cukup besar namunperlu adanya pembenahan kelembagaan dan pembenahan regulasi.

Industri halal akan menjadi master dalam perekonomian dunia dalam waktu dekat. Oleh karena itu hal ini menjadi tantangan kita untuk ikut ambil bagian dalam berkontribusi dalam pengembangan ekonomi syariah. Ekonomi syariah memang memberi maslahah yang luar biasa bagi perekonomian Indonesia. Harapan kedepannya, Kegiatan Public Hearing ini bukanlah satu-satunya kesempatan kita berkontribusi dalam megembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Selain belajar, ekonomi syariah juga menjadi ladang amal yang sangat luas jika kita mengimplementasikannya dengan benar di kehidupan sehari-hari.

Pelatihan Analisis Data sebagai Peningkatan Kualitas Hasil Penelitian

Pusat Studi Corporate Governance Fakultas Ekonomi UII pada hari Rabu, 1 Agustus 2018 mengadakan Pelatihan Analisis Data SEM and Path Analysis. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari yaitu hari rabu dan kamis dan bertempat di Innside Hotel Yogyakarta. Dr. Zainal Mustafa EQ, MM yang menjadi pembicara pada pelatihan tersebut merupakan seorang yang ahli dalam bidang pemrosesan data. Kegiatan yang dihadiri oleh 20 peserta yang sebagian besar oleh para profesional, dosen dan mahasiswa ini diajarkan untuk menggunakan software SEM dan Path Analysis Data, kemudian dilanjutkan dengan praktek secara langsung.  Dr. Zainal Mustafa yang juga berperan sebagai mentor pada pelatihan ini memberikan konsep dasar dan gambaran sehingga para peserta mendapatkan output dalam bentuk hasil analisis data.

Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, lalu dilanjutkan oleh sambutan ketua panitia yaitu Dr. Agus Abdurahman, MM. Ia menjelaskan bahwa banyak yang membutuhkan pelatihan ini, khususnya para praktisi dan kegiatan ini baru pertama kali diadakan oleh pusat studi ini sebagai  Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Fakultas Ekonomi UII. Hasil yang diharapkan adalah adanya sinergitas dan kolaborasi yang tepat antar internal kampus dengan pihak eksternal. Mulai dari pengembangan akademisi universitas dengan adanya literasi digital culture sehingga mampu mengukur keseimbangan antar kuantitas dan kualitas akademisi. Selain itu, digital marketing juga menjadi tujuan dari institusi yang bersangkutan dengan mengadopsi standar-standar Deloitte yang merupakan salah satu dari empat perusahaan audit terbesar di Indonesia. Pak Agus juga mengungkapkan bahwa muara dari digital marketing ini akan menghasilkan para profesional, enterpreneur, freelancer dan pembisnis online.

Setelah acara pembukaan, para peserta menyiapkan masing-masing laptop yang akan diinstal oleh software Search Engine Marketing (SEM) dan  AMOS yang merupakan aplikasi untuk mendukung praktek dalam kegiatan ini. Setelah itu, Bapak Zainal Mustafa memulai penjelasannya dengan pengenalan SEM dan Path. “Olah data adalah hal yang terpenting dalam riset.” kalimat yang memulai pengenalan materi pagi itu. Seluruh perhatian peserta sontak mengarah pada sang pembicara yang berada di depan, penjelasan didukung dengan power point yang disiapkan oleh  pemateri dan masing-masing peserta juga diberikan modul. Dengan banyaknya fasilitas yang diberikan pihak penyelenggara tentu mengharapkan peserta mampu memahami pokok pembahasan dan mampu menginterprestasikan data. Proses interpretasi tersebut tentu didukung dengan analisis yang kritis.

Beberapa pokok bahasan yang di ajarkan pada pelatihan tersebut adalah cara mengukur konsep, persamaan struktural multi variant, tips pembuatan kuesioner, tendensi sistem, dan masih banyak lagi. Diskusi dilakukan lebih santai sehingga peserta lebih aktif dan atraktif jika ada sesuatu yang belum dipahami langsung bertanya pada mentor atau saling mengajari antar sesama peserta. Dalam pelaksanaannya, masih banyak peserta yang terkendala akibat kurang memahami penggunaan aplikasi yang telah diinstal, tapi segera diberi pelatihan privat oleh pihak panitia. Kegiatan hari pertama dan kedua diselingi dengan kudapan dan makan siang. Setelah istirahat makan siang kegiatan kembali dilanjutkan dengan pemberian arahan oleh mentor agar para peserta membuat bagan yang terdapat di modul.

Diakhir kegiatan hari pertama  mentor memberi arahan bahwa peserta sering berlatih dan membaca modul lebih dulu, untuk mempermudah pemahaman materi di hari berikutnya. Kegiatan dilanjutkan hari kamis, tanggal 2 agustus 2018 di tempat yang sama dengan pokok bahasan Path Analysis. SEM dan Path Analysis merupakan proses analisis yang dibutuhkan baik dalam proses auditing maupun proses penelitian lainnya. Hasil dari pelatihan ini diharapkan para peserta mampu menginterpretasikan hasil analisis data lebih objektif dan realistis sesuai fakta-fakta pada proses penelitian

Menggerus Sentimen Negatif Terhadap Pasar Modal

Dewasa ini maraknya sentimen negatif terhadap pasar modal Indonesia menjadikan banyak investor enggan untuk menanam modal di beberapa perusahaan. Sentimen yang dominan terjadi di pasar, kenaikan suku bunga di Amerika, hingga turunnya nilai tukar dolar. Hal-hal ini memicu turunnya harga saham yang berakibat pada sedikitnya penanam modal asal Indonesia dibanding luar negeri. Generasi milenial diharapkan mampu mengikis sentimen yang beredar di masyarakat. Sebagai generasi yang jumlahnya paling banyak dan paling dekat dengan teknologi, generasi milenial memiliki lebih banyak kesempatan untuk turut andil dalam lingkup pasar modal. Berdasarkan data yang diperoleh, generasi milenial memiliki turn over yang tinggi. Hal ini akan berakibat pada keloyalitasan para pekerja. Oleh karena itu, pasar modal menjadi suatu hal yang menarik untuk dicoba.

Interaksi teknologi dengan para generasi milenial memberikan kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. Gadget yang digunakan dapat menjadi sarana bagi masyarakat usia kerja untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mulai dari berjualan daring, bekerja pada aplikasi transportasi, hingga ikut trading saham. Trading saham adalah proses yang dilakukan trader yang frekuensinya lebih banyak dari investor karena jangka waktu transaksi yang pendek. Dalam proses trading para trader selalu memanfaatkan fluktuasi harga untuk mendapatkan keuntungan. Fluktuasi harga yang naik-turun dapat selalu dipantau pada gadget masing-masing trader. Hal ini yang menjadi alasan generasi milenial diharap mampu turut serta dalam kegiatan trading.

Selain ini kenaikan suku bunga Amerika Serikat memicu adanya Net Sell Arj. Datanya telah terlihat sejak tahun 2004 silam. Walaupun begitu, IMF mengemukakan bahwa Indonesia yang seharusnya terkena imbas dari kenaikan tersebut malah mengalami pertumbuhan saham yang relatif stabil. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di level VWAP.

Penanam modal yang berasal dari Indonesia tidak perlu khawatir karena berdasarkan laporan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) Indonesia cukup banyak mendapat aliran dana dari potofolio yang masuk. Sebagai langkah persuasif, pihak BEI beserta CGSCIMB yang merupakan salah satu perusahaan listing yang berada dibawah BEI mendatangi para mahasiswa pascasarjana dan doktor Fakultas Ekonomi UII. Kedatangan yang bertajuk ‘Investasi Di era Digital Bagi Generasi Milenial’ ini mengajak para milenial yang lahir pada kisaran 1980-1995 untuk mulai menabung saham. Gerakan ini mereka beri nama ‘Yuk Nabung Saham.’ Selain itu, BEI juga menyediakan wadah bagi para perintis Start Up. Wadah ini bernama Ideas Incubator yang diperuntukkan bagi start up bisa menggunakan fasilitas itu untuk go public.

Banyaknya keuntungan yang diungkap para pembicara Seminar Pasar Modal (27/10) itu mampu mengesampingkan sentimen yang beredar. Bahwa menjadi satu solusi bagi para pelajar di era digital untuk melakukan trading saham. Kedekatan teknologi yang sudah menjadi kebutuhan primer sekarang ini, tidak hanya sekadar untuk hidup dalam dunia maya tetapi bisa menghasilkan keuntungan. Ciri khas anak milenial yang bekerja tergantung pada keadaan dan cenderung kurang loyal mampu diatasi dengan adanya trading saham. “Bahkan dengan modal seratus ribu teman-teman bisa mengikuti trading saham online, yang selalu bisa teman-teman pantau” ungkap perwakilan dari BEI pagi itu.

Seminar yang dipadati oleh mahasiswa pascasarjana dan doktor FE UII ini mampu membuka wawasan bahwa menabung saham itu perlu. Dengan adanya tabungan saham tersebut masyarakat akan mampu memperoleh hasil dari fluktuasi harga. Investor yang memiliki ciri khas berpikir visoner tentu mampu berekspektasi dan mencoba untuk memenuhi ekspektasinya tersebut.(BTG/ANA)

Mengasah Pengetahuan Lembaga Keuangan Islam

Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, Indonesia dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan sistem perekonomian berbasis Syariat Islam. Berdasarkan data dari Global Islamic Economic Indicator 2017, perkembangan ekonomi syariah Indonesia berada di urutan ke-10 dunia. Menanggapi hal tersebut Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia mengadakan Conference on Islamic: Management, Accounting, and Economics. Pada konferensi tersebut dibahas mengenai perkembangan dari Lembaga keuangan Islam di Indonesia yang memiliki visi keumatan. Acara tersebut dihadiri oleh para mahasiswa FE UII dan peserta paper konferensi Islam di ruang kuliah P1/2 (28/11). Conference on Islamic ini bertujuan sebagai wadah untuk mengasah kepekaan masyarakat terkait perkembangan ekonomi syariah di Indonesia utamanya mahasiswa sebagai agent of change.

Menurut Dr. Jaka Sriyana, SE.,M.Si selaku dekan FE UII menuturkan bahwa “P3EI merupakan pusat pengkajian ekonomi Islam yang berdiri sejak tahun 1992 dan lembaga yang pertama kali mengadakan seminar terkait ekonomi Islam pertama di Indonesia hingga saat ini”.

Perkembangan ekonomi Islam tidaklah berjalan dengan mudah, sekitar 5-6% keberadaan Bank Syariah di Indonesia yang sampai saat ini masih terus melakukan peningkatan mutu dan pelayanan. Selain itu adanya bisnis syariah juga tak luput dari perkembangan ekonomi di Indonesia, karena hal tersebut Dr. Imam Teguh Saptono selaku pembicara pertama mengatakan bahwa “Dalam menjalankan bisnis Islam harus Fillah dan Lillah sehingga tidak akan merisaukan untung dan rugi”. Beliau juga menjelaskan bahwa menjadi pebisnis syariah harus memliki konsep celestialpreneur yaitu sebagai seorang pebisnis perlu beriman untuk menjadi dermawan, dimana saat ini konsep yang dianut adalah socioprener yaitu seorang pebisnis tidak perlu beriman untuk menjadi dermawan. Selain itu konsep social CSR semata-mata hanya untuk keuntungan perusahaan sendiri.

Salah satu bukti dari perkembang ekonomi Islam adalah berdirinya Baitul Maal wa Tamwil (BMT) di berbagai daerah di pelosok Indonesia. Kehadiran BMT sebagai cara untuk mendapatkan modal tanpa melakukan riba. Pada kesempatan tersebut, BMT yang menjadi contoh adalah BMT UGT Sidogiri, Pasuruan. Menurut KH. Abdul Majid Umar selaku pengamat keuangan BMT Sidogiri mengatakan ”BMT Sidogiri berdiri karena keresahan masyarakat akan modal yang dipinjam dari rentenir yang merajalela dan harus mengembalikannya dengan bunga”. BMT ini selain sebagai Lembaga keuangan mikro juga sebagai koperasi bagi masyarakat disekitar yang menjual berbagai produk halal. Hingga saat ini eksistensi dari koperasi BMT tersebut telah tersebar sebanyak 157 unit di Jawa timur, beberapa di Jawa tengah, dan Luar Jawa. Konsep dari BMT ini adalah melakukan simpanan dan pinjaman kepada masyarakat dimana pada akhir periode masa tabungan akan dibagikan kembali kepada masyarakat tetapi terdapat infak. Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa konsep penting yang dianut BMT Sidogiri adalah konsep barokah dalam Islam dengan keyakinan riba diharamkan dan menyuburkan sedekah.

Senada dengan hal tersebut, Ahmad Tohirin, Ph. D juga menjelaskan bahwa BMT merupakan salah satu Lembaga keuangan syariah yang ideal dimana mensejahterakan nasabahnya. Lebih lanjut beliau juga memberikan edukasi mengenai deposan bank Islam dan perbankan syariah, dimana bagi hasil yang dibagikan bank syariah berupa profit sharing. Pendirian dari Bank syariah sendiri harus berupa Perseroan Terbuka (PT), hal tersebut sesuai dengan hukum yang telah berlaku di Indonesia. Perkembangan dari perbankan syariah dianggap penting karena Bank syariah berupaya untuk mengimplementasikan kontrak-kontrak fiqih muamalah dalam Islam.

Conference on Islamic Management, Accounting, and Economics ini diharapkan mampu mengasah kepekaan dan pengetahuan masyarakat khususnya mahasiswa tentang perkembangan ekonomi Islam di Indonesia. Selain itu, juga menjadi edukasi supaya masyarakat menggunakan Bank Syariah dan mulai meninggalkan Lembaga keuangan yang menganut sistem riba. (SHF/FJR).

Tantangan Implementasi Keuangan Syariah di Era Revolusi Industri

Perkembangan Teknologi dan Informasi yang semakin pesat menuntut pelaku bisnis harus siap menghadapi tantangan. Munculnya istilah Industri 4.0 sudah tidak asing lagi di bidang keuangan dan akuntansi. Program Studi Magister Akuntansi Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan 1st National Conference on Accounting and Finance yang bertema “Tantangan Implementasi Keuangan Syariah di Era Revolusi Industri 4.0” yang dilaksanakan tanggal 8 Desember 2018 di Fakultas Ekonomi UII. Prof. Mahfud Sholihin, M.Acc., PhD. Dan Prof. Dr. Hadri Kusuma, MBA menjadi key note speaker atau pembicara utama dalam acara ini dan Drs. Arief Bachtiar, MSA sebagai moderator. Acara dimulai dengan sambutan dari Aditya Pandu Wicaksono, S.E. M.Ak., Ak selaku ketua acara dari 1st National Conference on Accounting and Finance dan dilanjutkan oleh Dr. Jaka Sriyana, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Sejumlah 101 peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi pada acara ini.  Konferensi ini nantinya akan diisi oleh 43 peserta yang datang dari seluruh penjuru negeri, yang secara teknis dibagi ke dalam 4 kelas dan 4 sesi presentasi dengan sistem paralel. Berbagai penelitian yang baik, edukatif, dan menarik akan disampaikan oleh para pemakalah. Dari beberapa penelitian itu akhirnya akan dipilih menjadi 2 best presenter dan 2 best paper, serta paper yang terpilih dari konferensi ini akan dimasukkan kedalam jurnal yang dikelola oleh Program Studi Akuntansi dimana pada saat ini Program Studi Akuntansi sudah mengelola dua jurnal dan jurnal yang dianggap baik akan tetap di review sesuai dengan prosedur yang ada.

Prof. Mahfud Sholihin, M.Acc., PhD sebagai key note speaker  membawakan judul Revolusi Industri 4.0 yang pada awalnya bermula pada tahun 2011 di Jerman, yang dimana revolusi industri sendiri menurut Prof. Mahfud Sholihin, M.Acc., PhD berkarakteristik disruptive technology, big data, dan artificial technology. Sedangkan, Prof. Dr. Hadri Kusuma yang merupakan salah satu key note speaker membawakan judul “Revolusi Indutri 4 Dan Profesi Akuntansi” sebagai materi yang dibawanya. Pada materi ini dijelaskan bahwa Revolusi Industri 4.0 merupakan Revolusi Industri yang ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, cloud computing, sistem big data, rekayasa genetika dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak (The Fourth Industrial Revolution by Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum). Namun Revolusi Industri sendiri memiliki beberapa ancaman diantaranya adalah secara global era digitalisasi akan menghilangkan sekitar 1–1,5 miliar pekerjaan sepanjang tahun 2015-2025, karena digantikannya posisi manusia dengan mesin otomatis (Gerd Leonhard, Futurist) dan diestimasi bahwa di masa yang akan datang 65% murid sekolah dasar di dunia akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada di hari ini (US Department of Labor report). Selain memiliki ancaman, revolusi industri juga memiliki peluang seperti era digitalisasi berpotensi memberikan peningkatan jumlah tenaga kerja hingga 2.1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025, serta terdapat potensi pengurangan emisi karbon sekitar 26 miliar metrik ton dari tiga industri: elektronik (15,8 miliar), logistik (9,9 miliar), dan otomotif (540 miliar) dari tahun 2015-2025 (World Economic Forum). Prof. Dr. Hadri Kusuma menyampaikan pada akhir materinya bahwa “Perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Manfaaatkan atau jadi korban adalah sebuah pilihan dan teknologi itu hanya alat seperti istilah a man behind the gun,  bahwa yang terpenting adalah siapa yang menggunakan alat tersebut.”

Magister Akuntansi UII dan Univeristy of Western Australia Buka Program Double Degree

Dunia pendidikan kian berkembang pesat. Dibutuhkan kolaborasi antar institusi pendidikan tinggi baik secara nasional maupun internasional. Universitas Islam Indonesia (UII) menyadari hal tersebut dan terus menjalin kerjasama dengan berbagai institusi pendidikan tinggi. UII kali ini bekerjasama dengan University of Western Australia (UWA) untuk menjajaki program double degree di bidang master akuntansi.

Program bertajuk 1+1 Dual Degree Program itu melibatkan Program Master Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) UII dan Program Master Profesional Akuntansi UWA. Pertemuan guna tindak lanjut kerjasama dilakukan oleh kedua belah pihak, Nandang Sutrisno, SH, LLM, M.Hum, Ph.D selaku Rektor UII dan Prof. Peter Robertson selaku perwakilan dari UWA yang bertempat di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi UII, Senin (7/5).

Sebelumnya, penandatangan artikel kerjasama sudah dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Mr. Ian Watt (Pro Vice-Chancellor (International) UWA) selaku perwakilan dari University of Western Australia dan Dr. Drs. Dwipraptono Agus Harjito, M.Si (Dekan Fakultas Ekonomi UII) selaku perwakilan dari Universitas Islam Indonesia.

Skema program ini yakni mahasiswa akan belajar 1 tahun di UII (semester 1 & 2) dan 1 tahun di UWA (semester 3 & 4). Selanjutnya mereka akan melakukan study research methodology pada semester pertama di UII dan penulisan thesis di UWA selama akhir semester.

Dalam kesempatan ini, Nandang Sutrisno memaparkan tentang sejarah maupun prestasi yang sudah diraih UII sekaligus pentingnya berkolaborasi antar institusi pendidikan. “Saat ini kolaborasi antar institusi pendidikan tinggi begitu penting, universitas sebagai representatif pendidikan tinggi harus mencari prospektif kerjasama dengan universitas ternama lainnya. Bentuk kerjasama ini merupakan langkah maju meningkatkan kapabilitas untuk menghadapi tantangan global.”Ujarnya.

Selain itu, Nandang Sutrisno juga menekankan bahwa Australia merupakan tetangga dekat Indonesia dan merupakan salah satu pusat pendidikan tinggi di Asia. “Kerjasama ini begitu penting untuk terus meningkatkan kapabilitas UII khususnya dalam bidang penelitian. Dan saya berharap bahwa kerjasama ini akan memberikan keuntungan bagi mahasiswa UII maupun UWA. Ini akan menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk belajar lebih dalam mengenai professional akuntan.”Tutupnya. (BKP/ESP)

Pengajian MILAD 25 Tahun PPs FE UII

Pada Sabtu 21 April 2018 telah dilaksanakan puncak acara dari Milad 25 tahun Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia di hall tengah yang dimulai dari pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIB. Program-program di pasca sarjana yang dimiliki oleh FE UII adalah Doktor Ilmu Ekonomi, Magister Akuntansi, Magister Ekonomi dan Keuangan, dan Magister Manajemen. Rangkaian peringatan milad Program Pasca Sarjana FE UII sendiri dimulai dari pelaksanaan Bakti Sosial, lalu dilanjutkan dengan Business Plan Competition, dilanjutkan Seminar Nasional dan ditutup dengan Pengajian dengan pengisi acara utama yaitu Ustadz “Cinta” Restu Sugiharto.

Dalam acara ini tamu yang diundang adalah seluruh civitas akademika FE UII, dosen-dosen di FE UII, Dekan dan Wakil Dekan FE UII, serta Direktur Program Pasca Sarjana FE UII juga turut hadir untuk memeriahkan. Acara dimulai pada pukul 09.00 dengan dibuka oleh mc, lalu acara dilanjutkan dengan hiburan dari Gamelan Kanjeng Anom dengan menyanyikan 3 buah lagu sebagai hiburan awal, setelah itu pembacaan  ayat suci Al-Quran oleh salah satu dosen FE UII, suasana pada saat pembacaan ayat suci Al-Quran sangat khidmat dan tenang.

Acara dilanjutkan dengan pemberian sambutan oleh direktur Program Pasca Sarjana bapak Zainal Musthafa, pada sambutannya bapak Zainal menyampaikan kabar duka mengenai salah satu keluarga Program Pasca Sarjana dan berdoa bersama untuk mendiang. Bapak Zainal juga sedikit menceritakan apa saja rangkaian acara menyambut milad Program Pasca Sarjana FE UII serta menyebutkan pendukung-pendukung dari pelaksanaan acara milad. 

Selanjutnya sambutan dari dekan FE UII, bapak dekan memberi ucapan selamat milad yang ke 25 untuk Program Pasca Sarjana FE UII yang sudah berdiri sejak tahun 1993. Dilanjut dengan sambutan dari mantan pengelola Program Pasca Sarjana FE UII, beliau memberi banyak nasihat untuk segenap civitas akademika FE UII untuk diantaranya yaitu sikap menghargai orang lain dan qanaah.

Setelah sambutan-sambutan masuk ke dalam acara inti yaitu pengisian materi pengajian oleh Ustadz “Cinta” Restu Sugiharto, beliau dalam membuka pengajian dimulai dengan menyanyikan sebuah lagu tentang agama yang salah satu liriknya berbunyi “Cukup bagi kita Allah, Masalah sebesar apa bila disebutkan nama-Nya menjadi tak seberapa, menjadi tidak terasa”. Yang dimaksud oleh lirik tersebut adalah sebesar apapun masalah yang dihadapi jangan lupa bertasbih, dan mengingat Allah karena kita harus melibatkan Allah kedalam kehidupan kita. Ustadz Restu juga menyampaikan tentang bagaimana cara menyatukan umat yaitu dengan membaca surat At-Taubah ayat 129. Ayat tersebut memiliki cerita dibaliknya, beliau bercerita bahwa dulu Nabi Muhammad memiliki 2 kaum yang setia mendampinginya yaitu aus dan khazraj, dulu kedua kaum itu bermusuhan namun damai karena Nabi Muhammad. Namun gara gara yahudi yang mengadu domba kedua kaum tersebut mulailah mereka mulai membenci kembali dan memulai peperangan, namun saat Nabi Muhammad mendengar berita tersebut, nabi berlari dan berteriak “bukankah dulu kalian berdamai karenaku?” lalu kedua kaum tersebut mulai tersadar dan berpelukan serta meminta maaf, disitulah Nabi Muhammad melafalkan doa untuk menyatukan kembali kedua kaum. Jadi intinya disini Ustadz menyampaikan jika UII ingin bersatu anggotanya dan menjadi semakin baik kedepannya banyak-banyak mengamalkan bacaan doa Nabi Muhammad.

Ustadz juga menyampaikan bahwa milad seharusnya merupakan puncak dari kesyukuran oleh karena itu ustadz mengajak semua tamu untuk bertasbih dan bersyukur bersama yang dipandu oleh ustadz dan diiringi oleh Gamelan Kanjeng Anom. Pengajian ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Direktur PPS FE UII.

UII Kembali Lahirkan Doktor Baru Bidang Ekonomi

Pengembangan bidang akademik merupakan prioritas utama untuk menghasilkan para lulusan yang berkompeten. Universitas Islam Indonesia (UII) juga terus bersinergi dengan mencetak lulusan pada jenjang program doktornya. Pada periode ini Program Doktor Ilmu Ekonomi UII melahirkan seorang doktor baru yaitu  Dra. Salamatun Asakdiyah, M.Si. Dengan kelulusan kali ini, promovendus merupakan peraih gelar Doktor ke-121 yang promosinya dilaksanakan di UII.

Salamatun Asakdiyah berhasil menyandang gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Membangun Komunikasi Word of Mouth Melalui Anteseden dan Konsekuensi Kualitas Pelayanan Perguruan Tinggi” dengan konsentrasi Manajemen Pemasaran. Ujian terbuka yang dipimpin oleh Rektor UII Nandang Sutrisno, S.H., M.Hum., LL.M., Ph.D berlangsung  di Fakultas Ekonomi UII pada Sabtu (20/1). Dewan penguji lainnya yakni Dr. Zainal Mustafa EQ, MM, Dr. M. Irhas Effendi, SE., M.Si dan Drs. Anas Hidayat, MBA, Ph.D.

Disampaikan Salamatun Asakdiyah latar belakang dibentuknya penelitian ini untuk merespon perkembangan ekonomi global yang membutuhkan peningkatan daya saing institusi pendidikan tinggi yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peningkatan daya saing perguruan tinggi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti pengembangan organisasi yang sehat, peningkatan kualitas pelayanan dan kepuasan Stakeholders.

Dosen Negeri Kopertis Wilayah V DIY DPK Universitas Ahmad Dahlan ini menjelaskan, dengan latar belakang penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi karyawan dan semakin tinggi komitmen karyawan akan mengakibatkan semakin tingginya kualitas pelayanan. Selain itu, semakin tinggi kualitas pelayanan akan mengakibatkan semakin tingginya kepuasaan mahasiswa, trust mahasiswa, komitmen mahasiswa dan komunikasi word of mouth. (BKP/RS)